Minggu, 16 Agustus 2015

Mengapa Sapi Kita Jual Seharga Ayam

SUATU ketika sepasang kakek nenek yang memiliki seekor sapi sedang berbicara di dalam rumahnya,

Kakek: “Nek…! Kalau kita ternak sapi saja, penghasilannya paling cuma setahun sekali…”

Nenek: “Terus gimana dong, Kek?”

Kakek: “Gimana kalau kita jual saja sapi kita, terus hasilnya kita belikan kuda buat narik delman, jadi untungnya bisa tiap hari.”

Nenek: “Wah ide bagus tuh, Kek!”

Tanpa diketahui ternyata pembicaraan si kakek dan si nenek, didengarkan oleh komplotan pencuri.

Akhirnya mereka membuat ide licik untuk mengelabui kakek nenek tersebut.

Keesokan harinya si kakek dan nenek berjalan menuntun sapinya menuju pasar, di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang pemuda yg merupakan salah satu dari komplotan pencuri tersebut.

Pencuri 1: “Waaaah! AYAM-nya bagus sekali kek! Berapa mau di jual?”

Kakek: “Enak saja dibilang AYAM, yang berkaki empat seperti ini namanya ya SAPI!”

Pencuri 1: “Hahaaaa… si Kakeek bercanda aja… dari dulu juga yang kaya gini mah namanya AYAM, Keek!”

Kakek: “Haaaah.. sabodoo ah!!”

Selang beberapa lama ternyata si kakek bertemu kembali dengan seorang pemuda, salah satu komplotan pencuri juga.

Pencuri 2: “Dijual berapa ayamnya, Kek?”

Kakek: “Ini SAPIIIIII,.. bukan AYAM!”

Sambil melanjutkan perjalanan akhirnya si kakek mulai ragu dan bertanya kepada si nenek. Kakek: “Emang bener ini teh ayam, Nek?”

Nenek: “Bukan kek… ini mah sapi…”

Kakek: “Atau kita sudah mulai pikun yaah??”
Nenek: “Gak tau juga, Kek …”

Sama-sma bingung

Sesampainya di pasar…

Pencuri 3: “Naaaah ini diaaaa,… Akhiiirnyaaa… datang juga AYAM yang ditunggu-tunggu. Berapa, Kek, ayamnya?”

Setelah berdebat akhirnya si kakek menjual SAPINYA seharga AYAM.

seperti inilah kondisi kita saat ini.

1. Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.
2. Kesalahan tidak bergantung pada jumlah kuantitas.
3. Kesalahan yang selalu diwiridkan/diteriakkan suatu saat akan dianggap sebagai kebenaran (JANGAN MUDAH TERTIPU oleh MEDIA).
copaste by www.AinuRofik.com

Beda Korea Selatan dan Indonesia

Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan. Kalau Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945.
Walaupun hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu lebih miskin dari Indonesia, sekarang menempati papan atas Negara Maju.

Hmmm....hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya…!

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia. Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah. Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.

Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya? Jawabannya, pasti tidak.
Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya. Jika di Indonesia di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Bagi mereka, "Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea".

Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah.
Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya “밥을 먹었어요?” (“Sudah makan nasi?”), jika belum maka akan diajak makan. Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini.

Pesan dari Presiden Korea saat itu,
“Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.” (Mari kita bekerja lebih keras dan lebih keras. Mari kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak2 kita dijual ke luar negeri)

Dan kemudian ditutup oleh quote ini,
“Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.”
("Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yg layak untuk dibanggakan.")

Bisakah kita?
🇮🇩🇮🇩🇮🇩 Merdeka Indonesia Selalu Jaya Raya!
copaste by www.AinuRofik.com

Jumat, 14 Agustus 2015

Ini Pembangkit Listrik Milik Cina atau Indonesia Ya?

Ini Pembangkit Listrik Milik Cina atau Indonesia Ya? Kok Peresmiannya Cuma Pekerja Cina Yang Diundang?

-SrambiMINANG.com – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang di Buleleng, Bali, resmi beroperasi, Selasa (11/8/2015). Namun acara peresmian yang bertajuk Completion and Production PLTU Celukan Bawang itu sama sekali tidak melibatkan pekerja asal Indonesia. Keseluruhan merupakan Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok. Bahkan, petugas pemeriksa para tamu undangan merupakan pekerja Cina.

Nuansa Tiongkok sangat terasa selama pelaksanaan acara tersebut. Sejumlah petinggi investor China Huadian Engineering Co Ltd (CHEC) ketika menyampaikan sambutan menggunakan bahasa Mandarin.

Praktis hanya Assisten Ekonomi Pembangunan Provinsi Bali, Ketut Widja, yang mewakili Gubernur Bali, dan Asisten II Setda Buleleng, Ida Bagus Geriastika, mewakili Bupati Buleleng yang menggunakan Bahasa Indonesia ketika sambutan.

pekerja-cina
Pekerj CIna yang menjadi tamu undangan
Dari informasi yang berkembang, acara itu dilaksanakan PT CHEC perusahaan asal Tiongkok sebagai pemilik saham terbesar PLTU Celukan Bawang. Mereka tidak melibatkan PT General Energy Bali (GEB), investor lain asal Indonesia. Bahkan, tidak satupun perwakilan dari PT GEB yang hadir dalam acara tersebut.

General Affair PT GEB, Putu Singyen belum dapat dikonfirmasi, kemarin. Saat berusaha dihubungi melalui telepon selulernya tidak ada jawaban. Begitu pula ketika dihubungi melalui pesan singkat juga tidak ada balasan.

Menurutnya, para pekerja Cina tidak bisa diajak berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia. Sehingga selama pelaksanaan acara lebih banyak menggunakan bahasa isyarat.

“Masuk PLTU tadi serasa berada di negara lain. Semua bernuansa China mulai petugas, bahasa, dan interiornya. Saya mewakili bupati karena beliau sedang ada acara lain. Nanti akan saya sampaikan kepada pimpinan tentang hal ini, karena kapasitas saya kan hanya mewakili, tentu ada catatan,” ujarnya usai acara peresmian itu.

Sehari sebelumnya, Komisi II DPRD Buleleng dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Buleleng mengunjungi PLTU) Celukan Bawang. Dari hasil kunjungan itu, ada beberapa catatan untuk pengelola PLTU. Yang paling menjadi sorotan adalah banyaknya petunjuk operasional yang menggunakan tulisan berbahasa Mandarin, tanpa ada bahasa Indonesia.

Tak hanya itu, bendera perusahaan CHEC di dalam area PLTU dipasang tidak lebih rendah daripada bendera Merah Putih. (tribunnews)
copaste by www.AinuRofik.com